pangondian blog's

ora et labora

Sabtu, 15 Januari 2011

SPESIFIKASI 2010 & PAHS 2010

Dengan diterbitkannya Surat Direktur Bina Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum no. 02/SE/BT/2010 tanggal 26 November 2010, maka Spesifikasi Umum Bidang Bina Marga (Spek Umum Bina Marga) dan Software Perhitungan Analisa Harga Satuan (PAHS) 2010 yang mengacu pada Spek 2010 telah resmi dapat digunakan.

Bebarapa perubahan pada PAHS 2010 dan Spek 2010 perlu dicermati. Penyempurnaan ini juga untuk lebih memberikan kejelasan dan ketegasan. Salah satu perubahan mendasar contohnya mengenai tebal perkerasan AC-BC yang disempurnakan menjadi minimal 6 cm, pembayaran pekerjaan aspal yang terpisah dari setiap item/komponen.

Dalam Spesifikasi dan PAHS 2010 juga telah ditambahkan tentang pelaksanaan K3 dan SMK3.

untuk Sek dan PAHS dapat di download di :
http://www.ziddu.com/download/13405458/SpekUmum2010word.rar.html, http://www.ziddu.com/download/13405708/AHSSPECEdisi2010.rar.html, http://www.ziddu.com/download/13405716/SuratPemberitahuanPembaharuanSpesifikasiUmum.pdf.html dan http://www.ziddu.com/download/13405715/lampiransuratDirBitek.pdf.html

Kamis, 13 Januari 2011

PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK 3)

Mengacu pada UU No.18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Peraturan Pemerintah no.29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi dan Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum No.174/MEN/1986 dan 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada tempat kegiatan Konstruksi, Menteri Pekerjaan Umum menerbitkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no.09/PRT/M/2008 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi bidang Pekerjaan Umum dalam rangka pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk mengatur pelaksanaan K3 di bidang Konstruksi.
Peraturan ini dimaksudkan sebagai acuan bagi Pengguna Jasa maupun Penyedia Jasa dalam pelaksanaan SMK 3 , sehingga dapat dilaksanakan secara Sistematis, Terencana, Terpadu dan Terkoordinasi.
Adapun tujuan diberlakukan Peraturan ini agar semua Pemangku kepentingan mengetahui dan memahami tugas dan kewajibannya dalam penyelenggaraan SMK3 Konstruksi bidang Pekerjaan Umum sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja konstruksi dan penyakit akibat kerja konstruksi serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja.
Untuk pelaksanaan SMK3 dalam Panduan Analisa Harga Satuan (PAHS) tahun 2010 dan Spesifikasi Umum bidang Bina Marga tahun 2010, K3 telah diakomodir dalam setiap item pelaksanaan pekerjaan, yang tertuang dalam setiap analiasa harga satuan.(f2p)

Selasa, 21 Desember 2010

PERHITUNGAN BOX CULVERT SINGEL & DOUBLE

Berikut ini perhitungan Box Culvert Beton tipe Singel Box maupub Double Box dengan menggunakan aplikasi excel. Perhitungan dirumuskan dalam hitungan dalam rumus-rumus excel, sehingga perhitungan dapat lebih cepat. Beberapa penyesuian dapat dibaca dalam petunjuk.

http://www.ziddu.com/download/13066398/DoubleBox.xls.html

PERHITUNGAN PILAR JEMBATAN

Berikut ini perhitungan Pilar Jembatan tipe dinding penuh dengan menggunakan aplikasi excel. Perhitungan dirumuskan dalam hitungan dalam rumus-rumus excel, sehingga perhitungan dapat lebih cepat. Beberapa penyesuian dapat dibaca dalam petunjuk.

untuk aplikasi dalam excel dapat diunduh di http://www.ziddu.com/download/13066102/PilarJembatan.xls.html

PERHITUNGAN ABT JEMBATAN

Berikut ini perhitungan Abutmen (ABT) Jembatan tipe Cap dinding penuh dengan menggunakan aplikasi excel. Perhitungan dirumuskan dalam hitungan dalam rumus-rumus excel, sehingga perhitungan dapat lebih cepat. Beberapa penyesuian dapat dibaca dalam petunjuk.

untuk aplikasi dalam excel dapat diunduh di http://www.ziddu.com/download/13065924/Abutmentjembatan.xls.html

Rabu, 03 November 2010

SOSIALISASI LEGER JALAN di BATAM

Kegiatan Sosialisasi Leger Jalan di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I berlangsung di Provinsi Riau dan Provinsi Kepulaun Riau. Adapun tujuan sosialisasi ini adalah untuk melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.78/PRT/M/2005 yang mengatur tentang leger jalan.

Sosialisasi Leger Jalan di Provinsi Kepulauan Riau, tepatnya di hotel Utama Batam pada tanggal 27 Oktober 2010. Sosialisasi ini dihadiri oleh peserta dari SNVT P2JJ Kepuaauan Riau, SNVT Pembangunan Kepulauan Riau, SNVT Preservasi Kepulauan Riau, PU Provinsi Kepulauan Riau, Badan Pengembangan Kawasan Batam dan PU Kabupaten/Kota se Provinsi Kepulauan Riau.

Sosialisasi Leger Jalan ini di buka oleh Kabag Tata Usaha Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I, Ir. Hanny Saksono,MM. Nara sumber Sosialisasi Leger Jalan ini berasal dari Direktorat Bina Program Dirjend Bina Marga yaitu, Ir. Julius Solihat,MT dan Ir. Dedi Rohendi dan sebagai moderator Enda Latersia ST.

Ir. Hanny Saksono,MM mengatakan, “Sosialisasi Leger Jalan ini berdasarkan Permen PU no. 37/PRT/1987 dan Permen PU no. 78/PRT/M/2005. Leger Jalan ini bertujuan untuk melaksanakan penyusunan rencana, program dan melaksanakan tertib penyelenggaraan jalan dengan mewujudkan dokumen yang lengap, akurat,mutakhir dan mudah diperoleh berupa kuantitas, kondisi dan nilai yang diperoleh dari biaya disain, pembangunan dan pemeliharaan dan pengawasam jalan.” (f2p). dikutip dari www.bbpjn-1.web.id

Minggu, 31 Oktober 2010

Timbunan Jalan Pendekat Jembatan (Oprit)

Timbunan jalan pendekat jembatan yaitu segmen yang menghubungkan konstruksi perkerasan dengan kepala jembatan. Adalah merupakan segmen sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi tertentu sesuai alinyemen horizontal, alinyemen vertikal dan besarnya kelandaian melintang berdasarkan gambar rencana. Timbunan jalan pedekat mulai dari ujung perkerasan jalan melalui transisi kelandaian sampai kepala jembatan sesuai ketentuan Geometrik untuk perencanaan jalan dan jalan pedekat jembatan.

Timbunan jalan pendekat sebagai pondasi dasar yang mendukung lapis pondasi bawah. Apabila lapis pondasi bawah tidak ada maka lapisan tanah dasar mendukung langsung timbunan, timbunan jalan pendekat mempunyai kekuatan dan keawetan tertentu.

Dalam penentuan tebal timbunan nilai CBR dapat dikorelasi terhadap daya dukung tanah (DDT). Tinggi timbunan harus dipertimbangkan terhadap adanya bahaya longsor, sebaiknya pada lahan mencukupi dibuat kelandaian lereng alami dan apabila tidak mencukupi harus dibuat konstruksi penahan tanah. Timbunan harus dipadatkan lapis demi lapis sesuai ketentuan kepadatan lapisan.

Timbunan jalan pendekat harus direncanakan sedemikian rupa sehingga mendukung terhadap kekuatan dan kestabilan konstruksi kepala jembatan. Khusus untuk timbunan jalan pendekat dengan timbunan tanah yang tinggi, konstruksi penahan tanah sangat diperlukan agar badan jan tidak longsor.

Pertimbangan perencanaan timbunan jalan pendekat terhadap alinyemen horizontal harus direncakan sesuai dengan keamanan lalu lintas dan perpanjangan jembatan terhadap sungainya. Pertimbangan jalan pendekat terhadap alinyemen vertikal tergantung pada muka air tinggi, muka air banjir dan kelandaian memanjang yang sebaiknya tidak melebihi 5%.

Permasalahan utama pada timbunan jalan pendekat yaitu sering terjadinya penurunan atau deformasi pada ujung pertemuan antara struktur perkerasan jalan terhadap ujung kepala jembatan. Hal ini disebabkan karena:

  • Pemadatan yang kurang sempurna pada saat pelakasanaan, akibat tebal pemadatan tidak mengikuti ketentuan pelaksanaan atau kadar air optimum tidak terpenuhi.
  • Karena air mengalir keluar, dimana terjadi kapilerisasi pada lapisan atau kelurusan air melalui saluran drainase sehingga ada perubahan tegangan efektif.
  • Pemadatan lapisan timbunan jalan pendekat yang berlebih, dimana terjadi perubahan kadar air yang mengakibatkan pengembangan lapisan tanah yang dapat mendesak permukaan perkerasan ke atas.

Dalam mekanika tanah telah diketahui tanah timbunan jalan pendekat atau tanah pondasi sebagai material isotropis mempunyai dua sufat fisik yaitu:

  • indeks fisik seperti kadar air (w), massa jenis , batas cair (LL), indeks plastis (PI), batas susut (SL) dan lain-lain.
  • sifat kohesif (c ), indekss kompresibilitas (Cc) dan permeabilitas (k).

Masalah keseimbangan atau stabilitas ditentukan oleh kondisi beban pada tanah dan struktur diatasnya. Sedang masalah deformasi memerlukan perhitungan yang cermat untuk mengetahui besar distribusi tegangan yang ditimbulkan oleh beban struktur terhdap tanah dan berapa besar daya dukung tanah daar yang dapat menhan struktur diatasnya atau bagaimana pengaruh tinggi timbunan terhadap penurunan, longsor dan deformasi kepala jembatan.

Selanjutnya masalah drainase sangat erat keterkaitannya dengan stabilitas maupun deformasi. Kejadian yang sering antara ujung perkerasan baik aspal beton maupun pelat lantai beton yang berdekatan dengan kepala jembatan adalah penurunan dan konsolidasi struktur akibat material pengganti atau oleh tanah dasarnya.

Untuk mengeliminir penurunan pada kepala jembatan adalah dengan menggali pada tanah kritis/labil umumnya di daerah rawa dan menggantinya dengan material pilihan sehingga material timbunan akan lebih cepat memadat. Penggunaan material ringan untuk mengurai berat timbunan sehingga penurunan dan stabilitas dapat ditekan.

Dan bagaimana merencanakan tinggi timbunan jalan pendekat? Dapat dipelajari lebih jauh di Pedoman Konstruksi dan Bangunan Pd T-11-2003 disini. (edit by:f2p. dikutip dari http://aryapersada.com)